Seorang pemuda menggaruk-garuk kepala, mencoba mengerti sebuah kalimat sakti yang baru saja didengarnya di sebuah seminar "seni adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran" _PABLO PICASSO_ Tapi ia tak kunjung juga memahami maknanya, padahal ia selama ini merasa sebagai seorang seniman sejati. Ia tak dapat menerima kata BOHONG disandingkan dengan kata seni yang ia cintai.
"Bagaimana mungkin selama ini aku melakukan kebohongan?! Yah meskipun untuk menyadari sebuah kebenaran, bohong tetaplah bohong!"
Ah...ia merengut, berkali-kali menjeduk-jedukkan kepalanya ke tiang-tiang listrik di sepanjan jalan. Ia begitu kalut lalu mengambil saputangan bergambar Ultraman Tiga kemudian menutup kedua matanya.
"Selamat tinggal dunia...." Ia berucap lirih sembil melangkah ke jalan raya yang hari itu begitu riuh oleh motor dan mobil yang saling kebut-kebutan.
BRAK! Lalu semuanya gelap.
**
Saat tersadar, ia sedang berlari menelusuri gang-gang sempit, wc-wc umum, serta gorong-gorong kota. Jauh di belakangnya terdengar suara-suara penuh kemarahan
"Woi balikin kolor gue!" Sebuah suara melengking galak
"Balikin kaos bola gue! Itu masih ngutang!!" Suara lain tak kalah beringas menyusul.
Pengap, gerah dan berat! Heum rupanya ia tengah mengenakan sebuah kostum yang didominasi warna hitam dengan putih di bagian perut. Lalu wajahnya? Waw ia menjadi begitu mancung! Tak hanya hidung tapi juga kedua bibirnya. Uft! Untung cuma topeng!
" Loh kok tiba-tiba aku jadi begini sih?! Kayak kostum Si Komo...apa aku telah ber-reinkarnasi yah?" Ujarnya bingung.
"Huakakakka mau lari kemana lu?!" Sebuah suara manis tapi kejam tiba-tiba bergelegar bersama munculnya sesosok aneh di hadapannya.
"Uwa..! siapa kamu?" Si Pemuda berkostum Si Komo terperanjat menyaksikan sesosok makhluk aneh, ia berwajah Marimar tapi memar-memar dan bertubuh gempal dengan kostum balerina yang penuh tempelan lollypop.
" Gue Monster Gula-gula, pembela seniman dan tak gentar membela yang bayar. Ini kartu nama saya"
"Oh oke oke" sahut pemuda Si Komo sambil menerima kartu nama Monster Gula-gula. "Terus...kenapa tiba-tiba menyerang saya? Memangnya siapa yang membayar kamu?"
"Anak-anak kost yang elu colong jemurannya! Mereka yang bayar gue, soalnya gue juga freelance bantuin mereka kalau ada tugas gambar! Argh...udah ah ngobrolnya! CIA...T!!"
"Hei sini monster! Lawanmu adalah aku!" Tiba-tiba Ultraman Tiga datang menolong Si Komo.
Sang Monster pun menyerang Ultraman Tiga dan Si Komo, bersamaan dengan itu datanglah anak-anak kost, mereka pun menonton petarungan tak imbang itu sambil makan jamblang, kacang rebus dan minum bajigur. Sampaii akhirnya Si Komo oleng dan topengnya terlepas!
"Hah! Elo toh! Peter Penker!( Pena dan Kertas :p) ternyata elo yang selama ini maling jemuran anak kostan Ganteng Tujuh Turunan!" Seru seorang pemuda ceking yang dikenalinya sebagai teman sekamarnya, Pe-I.
"Makan temen lo!" Sabut sebuah suara yang lain.
Si pemuda bingung, ia tak sempat bertanya karena para anak kost itu mengeroyoknya. Ia berusaha kabur...lari, jauh berlari.
Dalam pelariannya, perlahan ingatannya terpanggil.
Ia teringat, ketika malam tiba ia seringkali mengendap-endap mengambil jemuran kawan-kawan satu kostnya untuk kemudian dijual demi menutupi uang sakunya yang enggak cukup untuk membeli kanvas, serta cat yang ia gunakan untuk melukis. Kadang bila teman-temannya mulai curiga dan dinas malam menjaga jemuran. Ia menyamar jadi petugas laudry!
"Ah...kacau! Ternyata ini masa lalu! Mengapa aku kembali ke sini? Ah aku harus menyamar jadi tukang laundry lagi besok, lalu menjual baju-baju curian itu! Ya! Aku butuh uang itu untuk bayar hutang kanvas! Mungkin itu alsannya aku kembali ke dimensi waktu ini"
Sang pemuda pun pergi bersembunyi di perkampungan penduduk yang awam. Kostum Si Komo yang dikenakannya membuat orang-orang mengira ia badut labill yang hilang jati diri.
Keesokan harinya, ia kembali dalam penyamaran sebagai petugas laundry dengan baju yang didapatnya dengan nyolong jemuran penduduk, ternyata jiwa maling masih melekat pada dirinya.
Ajaib! Ketika mengambil sekarung baju kotor, teman-teman Kostan Ganteng Tujuh Turunan sama sekali tidak mengenalinya! Mungkin ini yang namanya 'keajaiban'.
Setelah itu ia bergegas menuju pasar loak, baju-baju itu sengaja tidak dicuci olehnya. Yah biarkan saja! Toh dijualnya juga di pasar loak, bau-bau sedikit tak apalah....
Setibanya di pasar loak, ternyata masih sepi...ia pun menggelar pakaian-pakaian apek itu dengan apik sambil bersenandung riang.
"Hei lu! Kali ini elo gak bakalan lolos!" Tiba-tiba Monster Gula-gula sudah berkacak pinggang di hadapannya.
"Aduh...Ultraman Tiga...di mana kamu?" Si Peter Penker gemetar ketakutan.
"Ahahaha sayang banget! Ultraman Tiga lagi asyik menikmati voucer liburan ke pulau terpencil! Seru Monster Gula-gula sombong.
"Loh kok bisa tahu?" Tanya Peter Penker takut-takut, ia hampir pipis di celana.
"Iya! Soalnya gue baca status facebooknya!"
CIA...T...PLOP!
Tanpa aba-aba Si Monster Gula-gula melemparkan arumanis maut beracun ke dalam mulut si pemuda yang ternganga, membuat si pemuda nahas itu mati seketika!
"Hei kenapa lo bunuh! Kami kan cuma minta dia dikasih pelajaran!" Pe-I yang kebetulan lewat lari pagi terkejut melihat temannya sudah tak bernyawa.
"Kita laporin polisi aja!" Sahut seorang pedagang loak yang baru datang.
BLAST!
Mendengar kata-kata POLISI sang monster pun ketakutan dan menghilang seketika.
"Yah..cemen masak baru dibilang gitu aja udah menghilang!" Teman Peter merasa geram pada Monster gula-gula, tapi kemudian meratap sedih seraya membopong tubuh temannya dibantu oleh tukang loak " Kasihan temen gue..."
***
Hari-hari pun berlalu, semua orang berduka. Keluarga juga teman-teman Peter Peker, mereka sudah memaafkan kekonyolan teman mereka itu, keluarganya merasa menyesal tidak memberi jatah uang yang cukup untuk si Peter, sekaligus menyayangkan mengapa anak mereka mesti mengambil jalan pintas yang buruk itu.
Jadi maling jemuran dan mati dubunuh monster setengah banci! Uft...enggak elite banget deh!
Mereka berharap Ultraman Tiga segera menangkap dan membasmi Monster Gula-gula. Tapi, mereka rupanya tidak tahu, Ultraman Tiga yang pada hari nahas itu pergi berlibur, lupa membawa carger. Akibatnya sampai saat ini dia teronggok di pulau terpencil dalam keadaan lowbat.
Lalu bagaimana nasib Monster Gula-gula?
Nasibnya kini menyedihkan, ia hidup dengan sembunyi-sembunyi menghindari aparat juga keluarga dan hukum masyarakat yang kejam. Ia pun kehilangan mata pencaharian sebagai freelancer tugas-tugas gambar kampus.
Untuk menghilangkan kegalauannya ia menggambari dinding-dinding kosong di tiap sudut kota secara diam-diam ketika semua orang sudah memejamkan mata....
**
Sang Pemuda membuka mata, ia mendapati dirinya berada di tepi jalan. Mulutnya asyik merapal kalimat "seni adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran". Aneh...ia merasa pernah megalami kejadian ini, tapi kini pikirannya terasa lebih jernih.
***
in_25062011